Tuesday, January 22, 2008

Surat Balasan Maududi kepada Maryam Jamilah

Lahore, 19 Mei 1961
Puan Margarte Marcus .
Assalamu'alaikum warahmatullah,

Telah saya teriina surat puan tertanggal 12 April dan lagi-lagi saya harus minta maaf karena terlambat menjawabnya. Alasannya, seperti yang telah puan ketahui, adalah buruknya kesihatan saya dan banyak kerja. Setelah sakit yang berkepanjangan, saya akhirnya diberi pengobatan dengan penyinaran sinar X yang kuat dan alhamdulillah, saya sudah hampir sembuh. Tinggal rasa lemah saja yang saya rasakan.

Telah saya baca dengan penuh rasa tertarik guntingan majalah The Islamic Review yang memuat cerita-pendek dari novel puan yang puan lampirkan dalam surat yang lalu. Telah puan lukiskan dengan tepat sekali pengaruh materialisme Barat pada orang-orang Arab Islam. Telah saya saksikan dengan mata kepala sendiri pengaruh-pengaruh yang serupa pada kehidupan bangsa Arab ketika saya berkunjung ke sana. Dan telah saya membincangkan maasalah ini dengan para cendiakawan dan reformer yang cinta Islam.


Komentar-komentar yang puan terima tentang cerita puan tidak terlalu memeranjatkan saya. Orang-orang Islam yang ikhlas sekali pun khawatir bahwa orang-orang Barat dan orang Islam modern akan memberikan reaksi berupa penolakan bila gambaran "kemunduran" Islam ditampilkan kepada mereka. Reaksi pertama puan menghadapi pendapat yang menentang ini secara alami akan bercampur dengan keputus asaaan, tetapi puan harus mencoba untuk memahami semuanya ini. Bila puan tekun lagi sabar dalam melakukan dakwah Islam, akhirnya puan sungguh akan berhasil dalam segala upaya puan dan akan menghasilkan pemeluk-pemeluk Islam yang baru.

Saya nasehatkan puan agar jangan mencoba untuk meyakinkan setiap orang, khususnya orang-orang yang tidak mau mendengarkan atau yang p puan ngannya secara total pertentangan dengan p puan ngan puan, walaupun mereka adalah kedua orang tua puan sekalipun.
Allah telah berfirman: "Berilah peringatan bila peringatan itu bermanfaat."
Puan harus selalu berusaha untuk mendapatkan jiwa-jiwa yang sanggup melampaui pemikiran materialistik dan menghargai nilai-nilai ruhaniah dan moral yang lebih tinggi. Jika puan tidak berhasil mendapatkan orang-orang seperti ini, puan akan merasa sendirian dan terasing di tengah kebuasaan materialisme, persangkaan dan perdebatan terus-menerus dengan orang-orang yang bermusuhan. Pertengkaran dan perbalahan dengan orang-orang yang sentiasa berseteru dengan puan itu meungkin menubuhkan perasaan pesimis dalam jiwa puan .

Tentunya merupakan sesuatu yang biasa apabila negara-negara yang disebut-sebut sebagai "membangun" berusaha mengakhiri kemundurannya secepat-cepatnya dan mengejar negara-negara Barat dalam perlombaan meraih kemajuan material. Tetapi yang tragidi adalah bahwa bantuan dari negara-negara kaya membawa bersamanya kebudayaan Barat yang merupakan tantangan maut terhadap agama, moral, peradaban dan kebudayaan kita, ringkasnya, segala sesuatu yang dekat dengan kita dan membuat kehidupan kita berharga. Lagi pula kepemimpinan di negara-negara Islam masih berada di tangan orang-orang yang berjiwa kalah sekalah-kalahnya dan yang berusaha mengtafsirkan kembali hukum-hukum syari'ah dengan ilmu mereka yang sekelumit dan pengetahuan mereka terlalu cetek dalam hal ini.

Situasi seperti ini menimbulkan bahaya dua kali ganda . Hal ini tidak hanya merupakan tekanan bagi pola-pola pemikiran dan perilaku Islam, tetapi juga membuka kemungkinan bagi negara-negara Islam untuk jatuh ke pangkuan Komunisme. Bila umat Islam menyaksikan nilai-nilai kehidupannya yang luhur diinjak-injak sehingga hanya gagasan-gagasan materialistik saja yang tinggal sebagai wadah menjalani hidup dan mati mereka, maka pastilah dunia Islam akan menjadi tanah yang subur bagi propaganda , penyusupan dan permusuhan rahasia Komunis.

Saya pikir, politik luar negeri Amerika telah tersasul dan tidak akan dapat diperbaiki lagi. Ia akan menemui nasib yang sama seperti yang pernah dialami di negeri Cina, dan seluruh bantuan mereka berupa uang maupun barang jatuh ke tangan musuh. Buruk sangka yang berakar dalam terhadap Islam dan kebencian terhadap muslim di antara orang-orang Amerika dan Eropa telah membutakan mereka dari akibat yang merugikan mereka sendiri.

Pertanyaan yang dikemukakan di akhir surat puan yang lalu adalah benar-benar suatu pertanyaan yang penting, persis serupa dengan pertanyaan yang telah saya coba pecahkan sejak tiga puluh lima tahun yang lalu. Saya mulai upaya saya ketika saya masih remaja berumur dua puluh tiga tahun, dan sejak itu, saya baktikan seluruh kehidupan saya untuk tugas ini.

Saya tidak percaya dengan taktik bertahan ataupun menjaga garis belakang belaka. Telah saya lancarkan ofensif tiga cabang. Pertama, saya serang habis-habisan dasar-dasar ideologi kebudayaan Barat, kemudian saya sebarkan sejelas-jelasnya pokok-pokok ideologi Islam. Mengenai hal ini, saya terangkan dengan panjang lebar apa yang dimaksud dengan pandangan hidup Islam dan betapa ia lebih unggul dalam segala hal dari kebudayaan Barat.

Ketiga, saya tawarkan jawaban Islam yang praktis terhadap masalah-masalah penting yang di zaman sebelumnya seorang Islam yang taat sekali pun tidak punya pilihan lain kecuali harus mengikuti Barat. Sebagai hasil dari upaya ini, berjuta-juta orang Islam Pakistan dan India ikut bersemangat untuk menegakkan sistem hidup Islam dengan saya.
Kira-kira dua puluh lima buku saya yang berbahasa Urdu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan sebagian besar masyarakat Islam di negara berbahasa Arab menghargai dan bersimpati pada gagasan-gagasan saya. Saya tundukkan kepala di hadapan Allah dan memuji-Nya atas semua ini. Sayang sekali, baru sedikit karya-karya saya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Bila puan boleh berbahasa Urdu, saya pikir, buku-buku saya ini akan membantu puan dalam memperjuangkan Islam di Amerika.
Tahukah puan bahwa sejak tahun 1941, suatu organisasi Jama'at-e-Islami telah bergiat di anak benua India Pakistan. Jama'at-e-Islami berjuang untuk menyebarkan dan menerapkan ideologi yang. telah saya paparkan dalam karya-karya saya.

Setelah pemisahan Pakistan dan India di tahun 1947, organisasi ini pecah menjadi dua partai Jema'at-e-Islami Pakistan dan Jama'at-e-Islami India. Yang di Pakistan telah diharamkan bersama dengan partai politik yang lain tatkala diberlakukannya Undang-undang Darurat oleh Presiden Ayub Khan tahun 1958; yang di India masih hidup di bawah kepemimpinannya sendiri yang independen.

Saya ceritakan hal ini kepada puan untuk menarik perhatian puan akan kenyataan bahwa, agar puan bisa meraih hasil yang positif, diperlukan perjuangan dengan sabar selama bertahun-tahun. Lagi pula, agar bisa meraih keberhasilan, seseorang perlu diperlengkapi dengan kemampuan intelektual yang cukup di samping kemampuan moral.
Memang sulit melakukan perjuangan habis-habisan tanpa berhenti. Saya menyadari sepenuhnya betapa sulit dan melelahkannya bagi seorang gadis muda yang belum berumah tangga dan baru memeluk Islam untuk melakukan perjuangan demi Islam di negara seperti Amerika. Tetapi, setelah puan peluk Islam dan fahami kewajiban yang dibebankan olehnya, mesti puan cari pertolongan Allah Yang Maha Kuasa dan berusaha memikul tanggung jawab yang telah la pilihkan untuk puan .

Makin serius dan ikhlas puan berjuang, makin bertambah banyaklah bantuan yang puan terima dari Allah, yang akan datang dari arah dan dengan cara yang tidak puan dan saya duga sebelumnya.

Harus saya akui bahwa dengan terganggunya kesihatan saya, saya harus memaksa diri untuk melakukan berbagai-bagai pekerjaan. Setiap hari saya harus banyak membaca dan menulis, dan tiap hari banyak orang menyurati dan mengunjungi saya. Karena itu, bila saya terlambat membalas surat puan , harap jangan ambil hati dan teruslah memberi kabar kepada saya tentang kegiatan dan kesejahteraan puan.

Sungguh saya sangat tertarik kepada perjuangan puan untuk menegakkan Islam. Juga ingin saya terbitkan di dalam majalah bulanan saya yang berbahasa Urdu, Turjumanul Qur'an, ikhtisar surat-surat dan esai-esai puan , tentunya dengan menghilangkan rinci-rinci masalah pribadi.

Saya harap puan tidak berkeberatan. Bolehkah saya bertanya, sudahkah puan memakai nama Islam?

Setinggi salam hormat.
Yang Tulus
Abul A'la

No comments: