Monday, June 16, 2008

Kebahagiaan Hakiki.

JIKA kita mengembara dalam alam fikiran manusia dari abad ke abad, maka tentu akan banyaklah gambaran dan ungkapan tentang formula kebahagiaan yang kita tahu, iaitu rumus dari unsur apakah kebahagiaan itu tersusun.

Namun sejajar dengan apa yang dikemukakan tadi, maka jalan yang paling tepat ialah kembali kepada Allah, iaitu kembali merenungkan dan mempelajari hikmah yang diajarkannya melalui Nabi-Nya Muhammad SAW. Kiranya tiada formula yang komposisinya lebih tepat, melainkan formula yang diberikan-Nya. Justeru formula-Nya, bukanlah hasil fikir insan yang berlebih kurang, melainkan formula yang Ia letak sendiri pada kenyataan alam yang kemudian dengan hikmah-Nya diberikan keterangan selengkapnya.



Adapun formula kebahagiaan secara mudah dapat diketahui dalam Al-Quran:

“Demi masa! Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh. Saling berpesan-pesan pada (menjalankan) kebenaran, dan saling berpesan-pesan menjalani kesabaran.” (Al-Ashr: 1-3)

Jadi empat perkara yang memastikan manusia terhindar daripada kerugian dan kecelakaan dan itulah menjadi formula kebahagiaan:

1. Iman
2. Amal soleh atau takwa
3. Saling berpesan menjalankan kebenaran
4. Saling berpesan menjalankan kesabaran

Dengan demikian, orang yang luput dari empat faktor tersebut adalah manusia yang rugi. Sebaliknya orang memiliki keempat-empatnya adalah manusia yang beruntung dan berbahagia.

* Iman sebagai faktor utama yang memungkinkan seseorang berbahagia, dijelaskan dalam ayat yang lain:

“Sesungguhnya telah berbahagia orang-orang yang beriman.” (Al-Mukminun: 1)

Sebaliknya tanpa iman, seseorang tidak akan mungkin mencapai dan menemukan kebahagiaan sejati.

“Lantaran itu, bukankah tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang mengadakan kedustaan atas nama Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Sesungguhnya tidaklah akan berbahagia orang-orang yang berdosa.” (Yunus: 17)

“Dan barang siapa menyeru Tuhan yang lain berserta Allah, padahal tiada keterangan tentang itu, maka perhitungannya disisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan berbahagia.” (Al-Mukminun: 117)

Ketenteraman, kedamaian, kepuasan dan ketenangan yang dirasakan oleh orang-orang yang berbahagia itu, akan selalu diturunkan kepada orang-orang yang berdakap mesra keimanan dalam dadanya. Bahkan dengan ketenangan (sakinah) imannya akan bertambah-tambah.

“Dan supaya diketahui oleh orang-orang yang diberi ilmu, bahawasanya (ajaranmu) itu benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya, lalu tenteram hati mereka dengan (ajaran) itu, kerana sesungguhnya Allah memimpin mereka yang beriman di jalan yang lurus.” (Al-Haj: 54)

“Dialah (Allah) yang menurunkan ketenteraman ke dalam hati orang-orang yang beriman, supaya bertambah iman mereka yang (yang sudah ada).” (Al-Fath: 4)

Allah SWT berfirman yang maksudnya:

“Maka Allah menurunkan perasaan tenteram atas Rasul-Nya dan atas orang-orang yang beriman.” (Al-Fath: 26)

Jaminan kebahagiaan dan ketenteraman orang-orang yang beriman, selama tidak dinodai iman mereka dengan kezaliman difirmankan Allah SWT dalam Al-Quran:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri kepercayaan mereka dengan kejahatan adalah bagi mereka keamanan (ketenteraman) dan merekalah orang-orang yang terpimpin.” (Al-An’am: 82)

Mereka orang yang telah tertunjuk hatinya dengan keimanan akam memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan.

“Dan kesejahteraan adalah teruntuk bagi sesiapa yang mengikuti petunjuk.” (Tha-ha: 47)

“Katakanlah! Sekalian puji kepunyaan Allah dan kesejahteraan atas hamba-hambaNya yang Ia pilih.” (An-Naml: 59)

Orang-orang yang beriman akan selalu bersuka hati dalam mensyukuri nikmat Allah SWT dan disitulah dia merasakan kenikmatan spiritual yang tidak didapati oleh orang-orang yang tidak beriman:

“Mereka bersukacita (bergirang hati) kerana memperoleh nikmat dan kurnia dari Allah. Dan (kerana) sesungguhnya Allah tidak mensia-siakan ganjaran orang-orang yang beriman.” (Ali-Imran: 171)

Kenikmatan spiritual yang mententeramkan jiwa orang-orang yang beriman itu didapatinya dalam ingat (zikir) kepada Allah SWT dalam keadaan duduk, berdiri dan pada setiap waktu, akan dikurniakan Allah SWT dengan ketenangan hati. Ketenangan hati ini akan dipancarkan pada wajah. Oleh itu, orang-orang yang sentiasa mengingati Allah SWT sentiasa kelihatan ceria didalam kehidupan dunia dan akan berbahagia di alam akhirat. Sehubungan dengan itu, Allah SWT berfirman yang bermaksud:

“Orang-orang yang beriman itu tenteram hati mereka lantaran ingat kepada Allah. Ketahuilah bahawa dengan mengingat Allah itu mententeramkan jiwa.” (Ar-Ra’d: 2 8)

Ketenangan jiwa itulah sebagai pembangun kebahagiaan hidup. Sebaliknya orang yang hatinya kusut, kacau dan sedih, akan kehilangan kendali kerana ketiadaan iman, tentu tidak akan berbahagia. Demikian juga salah satu faktor pembangun kebahagiaan dalam jiwa orang yang beriman ialah jika diperdengarkan kepadanya keterangan-keterangan Alah SWT dan dibacakan ayat-ayatNya seperti dalam firmanNya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah, takutlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya kian bertambah iman mereka dan kepada Tuhan mereka berserah diri.” (Al-Anfal: 2)

Seperti dimaklumi bahawa perasaan cemas (khauf) dan duka (huzn) adalah perkara yang menggangu ketenteraman dan kebahagiaan. Jika kedua perkara tersebut hilang, maka berbahagialah seseorang. Iman yang disertai istiqamah menghapuskan semua itu dan menggantikannya dengan gembira dan bahagia:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka tetap lurus, nescaya turun atas mereka malaikat (yang berkata) bahawa janganlah kamu takut dan janganlah kamu berdukacita dan bergirang hatilah dengan syurga yang dijanjikan kepada kamu.” (Fussilat: 30)

Iman adalah mutiara kebahagiaan yang dirasakan sebagai nikmat yang paling agung dalam peribadi mukmin. Iman inilah yang membahagiakan hidup mereka dan menghapuskan segala kerunsingan dan kerisauan hidup dunia mereka. Allah SWT telah berfirman yang bermaksud:

“Sebenarnya Allah jualah yang telah melimpahkan nikmat kepadamu dengan memimpin kamu kepada keimanan, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 17)

Bagi mukmin, iman itu terasa sebagai perhiasan yang begitu indah dan agung dalam jiwanya, firman Allah s.w.t:

“Tetapi Allah telah menimbulkan cintamu kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu sebagai perhiasan (indah) dalam hatimu dan ditumbuhkan pula oleh Allah rasa kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang benar. Sebagai kurnia dan kenikmatan dari Allah.” (Al-Hujurat: 7- 8)

Kebahagiaan mukmin, lantaran iman dan takwanya meliputi dua alam, alam dunia yang sementara ini dan alam akhirat yang kekal abadi. Di dunia mereka tidak merasa takut kepada apapun. Mereka tidak takut ditimpa kemiskinan. Mereka tidak takut kelaparan, kekurangan makanan, pakaian dan sebagainya. Bahkan mereka tidak takut sekiranya keduniaan mereka kurang atau musnah sama sekali. Apa yang ditakuti oleh mereka adalah kekurangan agama dan takwa mereka kepada Allah SWT. Mereka sentiasa memeriksa keadaan agama dana amalan-amalan agama mereka. Orang yang seumpama ini, akan memperolehi kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah telah berfirman maksudnya:

“Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak akan berdukacita. Iaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi merekalah kegembiraan dalam kehidupan dunia dan akhirat; tidak ada perubahan bagi janji Allah itulah kebahagiaan yang besar.” (Yunus: 62-64)

Setelah menikmati kebahagiaan dunia, maka pada puncaknya diakhirat kelak, orang beriman akan menikmati kebahagiaan yang kekal dan abadi berdasarkan janji Allah SWT:

“Allah telah berjanji kepada mukminin lelaki dan wanita akan menganugerahi mereka syurga yang mengalir padanya sungai-sungai, kekal di dalamnya dan tempat-tempat yang baik dalam syurga yang kekal, sedang keredhaan dari Allah adalah lebih besar. Yang demikian itu suatu kebahagiaan yang besar.” (At-Taubah: 72)

Bukan hanya kebahagiaan yang berpangkal pada iman, tetapi juga kebahagiaan masyarakat seluruhnya. Kesejahteraan hanya mungkin terwujud dengan sempurna jika ditegakkan atas prinsip-prinsip keimanan, Allah telah berfirman maksudnya:

“Dan jikalau penduduk negeri-negeri itu beriman dan berbakti, nescaya Kami kurniakan kepada mereka beberapa kurniaan dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)

Tuhan akan menganugerahkan dan membukakan sumber-sumber kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan di bidang material yang memungkinnya menikmati kebahagiaan lahir dan batin.

Baik kemakmuran ekonomi mahupun batin, kedua-duanya akan diperolehi dalam suatu negara yang ditegakkan di atas prinsip iman dan takwa. Mereka akan dijadikan penguasa (khalifah) di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang terdahulu khalifah (para sahabat Rasullullah SAW dan para salaf soleh rahimullah’alaihim ajmain). Kepastian ini sesuai dengan jaminan Allah SWT di dalam Al-Quran, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud:

“Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari kamu dan beramal soleh bahawa Ia akan jadikan mereka sebagai penguasa di muka bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan khalifah orang-orang dahulu kala, dan Ia akan kukuhkan bagi mereka agama mereka yang Ia redhai untuk mereka dan Ia akan gantikan ketakutan mereka dengan keamanan.” (An-Nur: 55)

Sebaliknya, jika penduduk negeri itu kufur dan tidak mengendahkan nilai-nilai keimanan, maka akan hilang pulalah kemakmuran dan kebahagiaan itu. Apa yang diperolehi oleh mereka adalah azab dari Allah ST. Apabila manusia kufur akan nikmat Allah SWT dan setelah mereka diseru oleh para Rasul untuk kembali menyembah Allah SWT sebagai tanda kesyukuran mereka, tetapi mereka tetap enggan, maka Allah menurunkan azabnya kepada mereka. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Sesungguhnya adalah bagi penduduk Saba’ pada tempat tinggal mereka satu tanda, dua kebun di sebelah kanan dan kiri. Makanlah dari rezeki Tuhan kamu dan berterima kasihlah kepada-Nya. Negeri yang makmur dan Tuhan yang pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim atas mereka banjir pembinasa, dan Kami tukarkan dua kebun mereka dengan dua kebun yang mempunyai buah yang pahit, pohon cemara dan sedikit sekali bidara.” (Saba’: 15-16)

Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang. Tetapi hamba Allah jangan lupa bahawa Allah SWT juga Maha Keras (Qohhar). Allah SWT tidak zalim tetapi manusia sendirilah yang sering menzalimi diri mereka sendiri dengan melakukan berbagai-bagai perbuatan mungkar yang mendatangkan kemurkaan-Nya.

“Tidak sedikit negeri yang Kami binasakan lantaran kezaliman mereka, maka runtuhlah ia atas bumbungnya dan tidak sedikit telaga yang ditinggalkan dan mahligai yang tinggi.” (Al-Haj: 45)

Sebenarnya, kehancuran dan kecelakaan itu tidak akan terjadi sekiranya mereka beriman dan bertakwa, kerana Allah SWT tidak akan membinasakan suatu negeri kecuali penduduk negeri itu zalim. Orang-orang yang zalim adalah orang-orang yang engkar kepada perintah Allah SWT, melakukan maksiat, menggalakkan perlakuan maksiat, kufur, syirik dan segala perbuatan maksiat lahir dan batin. Allah berfirman yang bermaksud:

“Dan tidaklah Kami binasakan negeri-negeri kecuali apabila penduduknya orang-orang zalim.” (Al-Qashash: 59)

* Sebagai faktor yang kedua bagi wujudnya kebahagiaan ialah amal soleh, kebaktian atau takwa yang memancar dan keimanan itu sendiri. Amal soleh dan takwa adalah hasil daripada keimanan itu sendiri. Amal soleh dan takwa adalah hasil daripada keimanan yang mendapat jaminan kebahagiaan bagi siapa yang melaksanakannya, baik lelaki mahupun wanita:

“Barang siapa beramal soleh sama ada lelaki dan wania sedang dia mukmin, maka Kami akan hidupkan dia dengan kehidupan yang baik (bahagia) dan Kami akan tunaikan kepada mereka dengan ganjaran mereka yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

Jaminan kebahagiaan bagi mukmin yang mengerjakan amal soleh dijelaskan dalam ayat Al-Quran yang lain. Kebahagiaan, bukan sahaja di akhirat bahkan di dunia juga. Tempat kembali yang baik ialah syurga Allah SWT di mana mereka kekal di dalamnya. Firman Allah SWT maksudnya:

“Orang-orang yang beriman dan beramal soleh, adalah kebahagiaan bagi mereka dan tempat kembali yang baik.” (Ar-Ra’d: 29)

Sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran, surah Yunus ayat 62-64, maka kebahagiaan orang mukmin yang bertakwa akan diperoleh di dua tempat, masing-masing kebahagiaan dunia yang bersifat sementara dan kebahagiaan akhirat yang kekal dan abadi. Di dunia ini sudah menerima kebaikan tetapi kebahagiaan akhirat lebih tinggi nilainya, iaitu ganjaran keredhaan Allah SWT dan kemasukan ke dalam syurga jannatun-na’im dimana tiada kegusaran dan kesempitan di dalamnya. Janji ini disebutkan dalam Al-Quran maksudnya:

“Dan ditanya kepada orang-orang yang berbakti: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kamu?” Mereka menjawab: “Kebaikan”. Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di dunia ini, ada (ganjaran) kebaikan dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik dan sebaik-baik negeri bagi orang-orang yang berbakti.” (An-Nahl: 30)

Di akhirat itulah kelak orang-orang beriman dan beramal soleh akan menemukan mutiara kebahagiaan yang sejati dan puncak kenikmatan yang kekal. Allah SWT berfirman maksudnya:

“Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka yang beriman dan beramal soleh, ke dalam syurga yang mengalir padanya sungai-sungai, mereka dihiasi dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara dan pakaiannya dari sutera.” (Al-Haj: 23)

Firman Allah SWT:

“Dan dibawa orang-orang yang berbakti kepada Tuhan mereka ke syurga berpuak-puak, hingga apabila mereka datang kepadanya dan dibukakan pintu-pintunya, dan pengawal-pengawalnya berkata: “Sekalian pujian kepunyaan Allah yang telah menunaikan kepada kami penjanjian-Nya dan yang telah wariskan kepada kami bumi itu; kami dapat mengambil tempat disyurga, di mana (sahaja) kami kehendaki; maka alangkah baiknya ganjaran bagi orang-orang yang beramal (baik)!” (Az-Zumar: 73-74)

Cukup banyak dalil yang semakna dengan ayat tersebut, dan bentuk-bentuk kebahagiaan itu adakalanya disembunyikan Allah yang tidak diketahui oleh sesiapa, yang pada suatu ketika diungkapkan dan dihidangkan kepada orang-orang yang berbakti. Semua ganjaran ini disembunyikan Allah SWT dari pandangan mata manusia, agar manusia ghairah untuknya. Lantaran itu berusahalah menambahkan dan memperbaiki amalan sebelum maut menjemput pergi ke alam yang kekal abadi. Janganlah jadi seperti orang-orang yang engkar dan kafir kepada Allah, setelah melihat nikmat di dalam syurga dan azab di dalam neraka, mereka berkata kepada Allah: “Ya Allah kami telah melihat syurga dan kami telah melihat neraka, maka kembalikanlah kami ke dunia untuk kami melakukan amal soleh, sesungguhnya pada hari ini kami telah yakin.” Maka penyesalan pada hari itu tiada gunanya lagi. Allah SWT berfirman, maksudnya:

“Maka tiada jiwa yang tahu, apa yang disembunyikan bagi mereka daripada (sesuatu) pendingin mata (kenikmatan), sebagai ganjaran dari apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajadah: 17)

* Faktor kebahagiaan ketiga ialah tawashaw bil haqqi berpesan satu sama lain dalam melaksanakan kebenaran, iaitu mengajak beriman kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya, baik dalam aqidah mahupun dalam bidang amal kebajikan. Jaminan keberuntungan dan kebahagiaan bagi orang yang mengajak kepada kebenaran dijelaskan pula dalam ayat lainnya:

“Hendaklah ada dari antara kamu satu golongan yang mengajak manusia kepada kebaikan, menyuruh mereka membuat kebaikan dan melarang mereka dari kejahatan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat kejayaan (berbahagia).” (Ali-Imran: 104)

Keberuntungan orang yang suka mengajak sesama manusia kepada kebaikan dan kebenaran dikemukakan pula olleh Rasulullah SAW:

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, baginya pahala sama dengan yang mengerjakannya.” (Muslim)

“Maka demi Allah, kalau Allah memberi petunjuk hidayah seseorang kerana ajakanmu, maka itu lebih menguntungkan bagimu daripada mendapat binatang-binatang ternakan yang baik-baik.” (Bukhari dan Muslim)

Orang yang beriman selalu merasa tergugat melihat kemungkaran di sekitarnya dan barulah merasa senang dan tenang jika dia berjuang menegakkan prinsip-prinsip kebenaran. Keberuntungan golongan yang berdakwah kepada kebenaran Allah dan kecelakaan orang-orang yang mengabaikannya dikemukakan:

“Maka Kami selamatkan mereka yang telah mencegah kejahatan, dan Kami seksa orang-orang yang berbuat kejahatan akibat kedurhakaan mereka.” (Al-A’raf: 165)

Suatu kaum atau negeri yang tiada usaha melaksanakan amar makruf dan nahi munkar, tidak akan mungkin terwujud kebahagiaan di dalamnya. Penegasan ini dikemukakan dalam suatu keterangan Al-Quran:

“Telah dikutuk orang-orang kafir Bani Israel melalu lidah Daud dan Isa bin Maryam, yang demikian itu kerana durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah kemungkaran yang terjadi di antara mereka, sungguh keji perbuatan mereka.” (Al-Maidah: 7 8)

* Adapun faktor keempat daripada kebahagiaan ialah tawashaw bish-sabri, iaitu saling berwasiat satu sama lain berlaku sabar, menahan diri daripada perbuatan maksiat. Tahan mengerjakan kewajipan-kewajipan, tabah menghadapi ujian dan redha dengan keputusan Allah SWT. Dikemukakan dalam Al-Quran di mana Allah SWT telah berfirman yang bermaksud:

“Semoga keselamatan atas kamu lantaran kesabaran kamu. Betapa baiknya balasan akhirat.” (Ar-Ra’d: 24)

Ringkasnya, seluruh manusia berada dalam kerugian dan kecelakaan apabila luput dari keempat faktor kebahagiaan tersebut. Sebaliknya beruntunglah mereka yang memiliki keempat faktor sebagai formula kebahagiaan, iaitu iman, bakti atau amal soleh, berwasiat dalam melaksanakan kebenaran dan berwasiat dengan kesabaran.

Orang yang beriman akan selalu merasa damai dan bahagia dihatinya, jika dia telah melaksanakan prinsip-prinsip tersebut dengan baik, sekalipun dia mengalami tentangan dan penderitaan lahiriah. Itulah kebahagiaannya di dunia kerana merasa redha dan diredhai oleh Allah SWT, sementara selalu terbayang keampunan Ilahi dan puncak kenikmatan yang diterimanya di akhirat kelak.

Oleh As Sheikh Ahmad Ridha’ Hasbullah

No comments: